Selasa, 09 April 2013

Perkembangan Sastra Madura Memprihatinkan



Oleh: M. Tauhed Supratman


Pendahuluan
“Sastra Madura telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura-pen.) Buku-buku Berbahasa Madura pun tak laku jual. Dan, sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia.” demikian kata Suripan Sadihutomo (Kompas, 2 September 2002).
Suatu hal yang wajar dan tidak dapat dipungkiri lagi serta mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering terlontar perkataan yang mengatakan bahwa sastra Madura telah mati, sastra Madura ambruk total, sastra Madura hanya tidur panjang, sastra Madura mulai loyo, sastra Madura kehilangan roh, dan sebagainya. Mengapa? Mengenai masalah tersebut Ghazali (2000:2) mengatakan bahwa bahasa daerah yang ada di Indonesia pada umumnya mengalami tekanan, baik secara internal maupun eksternal. Dosen Universitas Negeri Malang asal Pamekasan tersebut menambahkan bahwa salah satu penyebabnya adalah adanya kebijakan pemerintah, yang meletakkan bahasa daerah, sastra daerah, serta seni budaya daerah dalam posisi terjepit, sehingga beberapa bahasa daerah dan begitu pula sastranya semakin berkurang penuturnya dan akhirnya, mati dan sebagian lagi terus tumbuh dan berkembang dengan kondisi yang memprihatinkan.
Perlu penulis katakan, berbagai upaya untuk menjawab masalah-masalah di atas, sebenarnya sering kali diadakan diskusi-diskusi atau seminar-seminar untuk mencari jalan keluarnya. Tetapi, sayangnya di dalam forum-forum seperti itu isinya hanya membicarakan masalah-masalah yang itu-itu saja, seperti ratapan masa depan sastra Madura yang suram dan sebagainya. Bahkan dalam seminar bahasa Madura yang diadakan oleh Balai Bahasa Surabaya tanggal 22-23 Nopember 2005, tidak menyentuh tentang sastra Madura itu sendiri. Memang memprihatinkan. Dan penulis bisa mengatakan bahwa itu merupakan langkah pasif-statis. Dengan kata lain, langkah-langkah tersebut hanya melihat satu sisi saja, yaitu keberadaan sastra Madura yang memprihatinkan tanpa dibarengi usaha dan kesadaran untuk lebih memajukan sastra Madura. Lalu apa jadinya kalau sastra Madura hanya di “ratapi dan ditangisi?” Ini bisa diibaratkan bahwa sastra Madura sedang tidur panjang dan menderita sakit. Apakah benar sastra Madura sedang tidur panjang atau menderita sakit? Tidak! Sama sekali tidak! Sastra Madura  tetapa sehat wal-afiat.
Sementara itu, Halifaturrahman (2000:1) mengatakan, realitas menunjukkan, sastra Madura mengalami keterputusan dengan generasinya. Padahal kebudayaan dalam arti yang sebenarnya hanya dapat diandalkan pada kehidupan manusia yang melahirkan kebudayaan itu. Demikian halnya dengan pernyataan penyair nasional asal Madura, H.D. Zawawi Imron, juga pernah mengatakan, bahwa generasi kini sedikit sekali atau bisa dikatakan tidak ada yang berminat menulis sastra dalam bahasa Madura. Bahkan tokoh-tokoh muda asal Madura, seperti: Abdul Hadi W. M., Mohammad Fudoli Zaini dan beberapa nama lagi (mungkin juga Pak Zawawi sendiri---pen.) lebih suka menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia. “Mungkin hal ini merupakan sebuah proses sastra Madura sedang meng-Indonesia-kan diri”, tambah Zawawi Imron dalam dialog sastra Madura, 30 April 2000, di Kampus Universitas Madura.
Sedangkan menurut pengamatan penulis, apa yang dilontarkan Halifaturrahman dan H.D. Zawawi Imron tersebut memang ada benarnya. Ini adalah kenyataan yang bisa kita lihat. Maka dari itu kita (para pecinta sastra Madura) lebih-lebih para pengarangnya harus mau mawas diri atau instrospeksi diri. Selanjutnya, kita berusaha agar masalah-masalah atau suara-suara sumbang yang menyelimuti dan membelenggu sastra Madura secepatnya dapat disingkirkan dan diatasi. Ini semua demi sehat dan majunya sastra Madura di dalam kiprahnya.
Untuk meningkatkan potensi sastra daerah (baca: Madura), menurut  pakar folklor dari Universitas Negeri Jember, Ayu Sutarto (dalam Kidung, 2003:22), mengatakan, paling tidak ada empat variabel yang harus menjadi sasaran perhatian dan penanganannya, yakni:
(1)                        Sastrawan Madura; yang dimaksud sastrawan Madura di sini adalah sastrawan yang menggunakan bahasa Madura sebagai wahana untuk menciptakan karya-karya sastranya;
(2)                        Pemerintah daerah;
(3)                        Masyarakat Madura sebagai pemilik dan pendukung, termasuk di dalamnya pengelola stasiun televisi, radio, surat kabar dan majalah yang terdapat di Madura; dan
(4)                        Karya sastra Madura, termasuk sastra lisan.
Keempat variabel tersebut merupakan kunci hidup-matinya sastra Madura. Keempatnya merupakan komponen yang saling mendukung, tidak bisa salah satu darinya ditiadakan atau tidak disertakan.

Perlu Peran Media Massa
Untuk meningkatkan potensi sastra Madura, menurut pendapat penulis, sangat terkait dengan kesediaan media massa untuk memberikan ruang dan waktu untuk produk budaya yang satu ini. Mengapa media massa? Karena media massa merupakan produk peradaban yang mempunyai jangkauan dan pasar yang sangat luas. Dalam era reformasi sekarang ini, pertumbuhan media massa, baik cetak maupun elektronik sangat luar biasa, para pendukung dan pemilik sastra Madura seharusnya memanfaatkan peluang ini. Yang dimaksud media massa di sini bukan hanya surat kabar, majalah, radio, televisi, tetapi juga produk teknologi yang mutakhir, yakni internet.
Faruk (dalam Sutarto, 2003:27) dalam ceramah sastranya yang bertajuk “Situasi Kritik Sastra Dewasa Ini”, juga menyinggung peran strategis media massa. Menurutnya, sekarang ini media massa yang memiliki jangkauan luas, khususnya surat kabar, telah mengambil lahan kritik dan sosialisasi sastra yang dulu hanya dimiliki oleh majalah kebudayaan dan buku. Koran-koran baik yang terbit di pusat maupun daerah telah mengambil alih posisi majalah kebudayaan sebagai basis kehidupan sastra dan kritik sastra. Penyebabnya menurut Faruk, media massa memiliki jaringan dan kontribusi yang luas dan faktor ekonomis. Di samping memiliki jangkauan luas, koran-koran memberi honorarium yang besar.
Sayangnya, seperti yang telah ditegaskan oleh Budi Darma (dalam Sutarto, 2003:28)  minat media massa terhadap pembinaan dan pemasyarakatan sastra Indonesia atau daerah tidak banyak. Media massa sering kali menolak untuk memuat karya sastra, masalah sastra, dan berita mengenai sastra karena alasan-alasan ekonomis.
Kekurangpedulian media massa terhadap sastra mau tidak mau membantu menciptakan sikap apatis terhadap pengajaran sastra.
Berkaitan dengan kebangkitan potensi sastra Madura menurut Sutarto, perlu kiranya dilaku-kan reformasi kegiatan sastra Madura yang terkait dengan peran strategis media massa dan pemanfaatan teknologi informasi. Seperti yang telah ditegaskan di atas, media massa yang memiliki jangkauan  dan pasar yang luas merupakan kunci utama kelangsungan hidup sastra Madura. Mengapa? Karena media massa memiliki paling tidak empat peran sentral, yaitu:
(1)          Mengokohkan dan mengukuhkan keberadaan sastra Madura yang merupakan ekspresi budaya pemiliknya (kelompok etnik atau komunitas tertentu, baca: Madura);
(2)          Memperkenalkan dan memberdayakan sastrawan Madura dalam forum lokal, nasional, regional, dan internasional;
(3)          Memperkenalkan tradisi dan nilai-nilai budaya Madura yang produktif kepada masyarakat luas, baik masyarakat pendukungnya maupun masyarakat di luar pendukungnya; dan
(4)          Menggali dan memanfaatkan potensi yang terkandung dalam sastra Madura, terutama yang terkait dengan kearifan-kearifan lokal yang dapat digunakan sebagai virus mental untuk membangun kehidupan yang arif, hubungan antar-manusia yang penuh pengertian, etos kerja dan etos belajar. (2003:28)

Peran Lembaga Pendidikan
Apresiasi bahasa dan sastra Madura di sekolah kurang bergairah, kurang gizi dan mlempem. Dan kalau pun pembelajaran bahasa dan sastra Madura tetap berlangsung, kiranya tidak bersifat apresiatif melainkan bersifat informatif, berupa teks book dari guru kepada muridnya karena tuntutan kurikulum. Kondisi semacam inilah yang membuat lemahnya pembelajaran bahasa dan sastra Madura di sekolah. Terutama di sekolah menengah (SMP dan SMA). Terlebih lagi di SD karena apresiasi bahasa dan sastra Madura memang masih bertaraf pengenalan.
 Mengingat siswa adalah anak-anak yang masih dipandang awam dalam bahasa dan sastra Madura, maka posisi guru menjadi pemegang peranan. Guru jangan mengajar hanya bersifat teks book, melainkan perlu juga diikuti suasana kreatif  dengan meningkatkan apresiasinya. Materi pengajarannya jangan hanya berupa ejaan bahasa daerah atau periodisasi sastra Madura, tetapi perlu ada penciptaan suasana mengajar secara inovatif, yang lebih menarik siswanya.
Rasanya sudah klise atau ketinggalan kereta manakala siswa seusia SMP atau SMA memperoleh pembelajaran  bahasa dan sastra Madura hanya berupa ejaan atau periodisasi sastra, sejarah sastra, dan tokoh-tokoh sastra Madura. Walaupun sebagai materi  hal itu tidak bisa ditinggalkan oleh guru dalam rangka proses awal pengenalan terhadap bahasa dan sastra Madura tersebut. Apalagi buku pegangan guru dan buku murid bidang bahasa dan sastra memang demikian adanya. Padahal, tidak kalah pentingnya – sebagai upaya kian lekatnya anatara bahasa dan sastra Madura dengan siswa – adalah terwujudnya apresiasi bahasa dan sastra Madura secara kreatif. Dengan begitu, anak didik akan mampu menggunakan bahasa atau mencipta puisi berbahasa daerah yang baik, mampu membaca puisi berbahasa Madura secara baik dan tepat intonasinya, dan mampu menulis prosa seperti cerita pendek dan essai dari bahasa daerah tersebut.
Tampaknya, kelemahan pembelajaran bahasa dan sastra Madura di sekolah terletak pada guru dan murid. Sebab, seharusnya guru bahasa dan sastra Madura dan murid-muridnya sama-sama mempunyai kometmen dan minat terhadap bahasa dan  sastra Madura. Bahkan sebagai guru bahasa dan sastra Madura, ia harus kaya pengalaman, punya minat besar terhadap bahasa dan sastra Madura, dan selalu kreatif terhadap tugasnya sebagai guru bahasa dan sastra Madura.
Guru, ketika  berdiri di depan kelas tidak perlu malu, takut atau minder bila hendak memberi contoh menggunakan bahasa Madura yang baik dan benar atau membaca puisi berbahasa Madura secara baik dengan ekspresi, intonasi dan akting guna menguatkan atau menghidupkan maknanya. Bahkan, metode inilah yang barangkali akan memancing siswa untuk berani tampil di depan rekan sekelasnya.
Langkah awal dalam hal pengenalan bahasa dan sastra Madura secara lebih luas adalah, memanfatkan buku perpustakaan sebagai sumber pembelajaran. Melalui sistem ini, siswa dapat digiatkan untuk membaca dan menelaah salah satu buku sastra berbahasa Madura yang paling diminati. Tahap berikutnya, siswa dilatih mengungkapkan secara tertulis hasil bacaannya (meresensi).
Kita merasa prihatin bahwa mayoritas guru bahasa dan sastra Madura, rata-rata mengajar secara verbalistis. Kini, harus segera diwujudkan mengubah cara mengajar yang dilakukan oleh guru terhadap anak didiknya, dengan metode merangsang minat siswa. Misalnya mencipta karya sastra berbahasa Madura. Karya yang baik dapat dimuat di majalah dinding di sekolah bersangkutan.
Melalui forum pemajangan hasil karya sastra anak ke majalah dinding, akan tercipta suasana kompetitif sesama siswa. Dengan demikian, majalah diding  bukan sekedar dibuat bila akan ada lomba saja. Ia harus menjadi media ekspresi siswa sekaligus sebagai wahana untuk menyalurkan aspirasinya masing-masing secara bebas dan bertanggung jawab. Bahkan, lewat kegiatan majalah dinding ini, siswa belajar menangani masalah penerbitan. Dengan bimbingan guru yang berpengalaman, siswa yang menjadi pengurus majalah dinding dapat menyusun lay out, penyuntingan, editorial dan lain-lain.
Manfaat pembelajaran bahasa dan sastra Madura tentu bukan untuk hari ini saja. Juga untuk hari esok yang kini belum kita ketahui. Dan guru perlu meyakinkan kepada siswanya bila karya sastra sebagai karya kreatif, juga bisa menjadi sumber penghasilan bila sastra hendak dijadikan profesi atau ladang bisnis. Kita bisa menunjuk beberapa pengarang sastra daerah (sastrawan berbahasa Jawa) yang karyanya telah laku di pasar dan namanya selalu dikenal masyarakat pembacanya, misalnya mBak Trinil, Widodo Basuki, Suparto Brata, Djayus Pete, Bonari Nabonenar, dan sebagainya. (Supratman, 2005)

Kesadaran Baru 
Suatu hal yang sangat mendasar apabila sastra Madura dikatakan belum memasyarakat. Memasyarakat di sini dimaksudkan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat, menyangkut kehidupan masing-masing individu maupun kehidupan kelompok. Tidak berlebihan memang, kalau dikatakan bahwa sastra Madura (baca: sastra Madura modern) belum memasyarakat. Masih banyak kelompok etnis Madura yang belum mengetahui sastranya. Lebih-lebih lagi orang Madura yang berdomisili di luar pulau Madura.
Menurut persepsi penulis, mengenai bagaimana keberadaan sastra Madura di tengah-tengah masyarakat Madura sekarang ini, memang belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Jalannya masih tertatih-tatih. Hal ini disebabkan minimnya penikmat atau pembaca terhadap karya sastra Madura. Meskipun ada itu terbatas yang sudah gandrung atau cinta. Sebagai contoh yang mudah saja, ketika diadakan lomba adungngeng (mendongeng) berbahasa Madura ini bisa dipastikan penontonnya sa-ngat sedikit. Berbeda dengan kalau diadakan pementasan musik dangdut, seperti Inul misalnya, pasti penontonnya akan ramai.
Kalau kita simak lebih jauh lagi ditengah-tengah masyarakat, semua itu terbawa oleh asumsi yang keliru dan salah kaprah dari sebagian masyarakat. Kebanyakan mereka menganggap bahwa sastra termasuk didalamnya sastra Madura itu tidak penting dan tidak bermanfaat. Maka dari itu asumsi yang keliru dan salah kaprah tersebut harus diluruskan dan dibenarkan. Bagaimanakah, caranya? Sebelum sampai pada jawabannya, kiranya perlu penulis katakan, bahwa karaya sastra Madura hanya merupakan konsumsi bagi kalangan menengah ke bawah. Dan sebagian besar tersebar di pedesaan. Jadi tidak mengherankan kalau sastra Madura disebut sastra desa.   
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kiranya di masyarakat (baik di desa maupun di kota) perlu ditumbuhkembangkan adanya kesadran baru terhadap karuya sastra Madura. Dengan kata lain diadakan suatu usaha yang mengarah kepada pema-syarakatan sastra Madura. Seharusnya usaha tersebut dilandasi dengan sistem dan metode yang tepat kalau ingin berhasil.
Apabila di masyarakat Madura sudah tumbuh kesadaran baru terhadap karya sastra Madura dengan demikian pembaca atau penikmatnya semakin lama semakin bertambah. Dan pada akhirnya akan menjadikan sastra Madura bisa tumbuh subur dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya.

Penutup
Penulis mengira sudah saatnya sastra Madura bangun dan bangkit. Kalau demikian apakah sastra Madura itu tidur? Tidak! Ini mengandung maksudagar jalan dan perkembangannya semakin lancar dan subur. Juga diharapakan sastra Madura  bisa tahan bantingan dan tahan uji menghadapi segala situasi dan arus perkembangan zaman.
Disaamping para pengarang selaku kreator dituntut benar-benar mempunyai kreativitas tinggi yang nantinya bisa memberi corak, model dan nuansa baru bagi perkembangan sastra Madura, juga masyarakat Madura sebagai konsumen hasil karya sastra sepenuhnya bisa memberikan andil besar terhadap perkembangan sastra Madura.
Kalau semua itu sudah berjalan mulus tidak aneh lagi apabila sastra Madura nantinya bisa hidup dengan subur dan berkembang, syukur apabila nanti dapat meraih zaman kejayaan. Itulah yang kita harapkan. Sekali lagi perlu penulis tegaskan bahwa sekaranlah saatnya bagi sastra Madura untuk bangkit, sehingga tidak terdengar lagi ratapan dan tangis serta suara-suara sumbang yang ditujukan kepada sastra Madura. Semoga...!  
                                      



DAFTAR PUSTAKA
Ghazali, A. Syukur. 2000. Beberapa Pemikiran Tentang Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya. Makalah “Dialog Sehari Seni Budaya Madura”. 28 Oktober 2000. Makalah Seminar. Tidak Diterbitkan.

Halifaturahman. 2000. Sastra Madura “Dimanakah Kini?”. Makalah “Dialog Sehari Seni Budaya Madura” 30 Oktober 2000. Makalah Seminar Tidak Diterbitkan

Imron. D. Zawawi (dalam Haub de Jonge, ed). 1985. Agama, Kebudayaan dan Ekonomi. Jakarta:Rajawali Pers.

Kompas Cyber Media. 2002. Menghidupkan Kembali Sastra Madura. Jakarta: Kompas Edisi Senin, 2 September 2002.

Nabonenar, Bonari. 2002. Sastra Campursari Kumpulan Puisi: Osing, Madura, Surabaya-an, dan Mataram-an. Surabaya: Taman Budaya Jawa Timur.

Supratman, M. Tauhed. 2005. “Sastra Madura, Anak Tiri Pembelajaran?” Kompas Jawa Timur, 26 Nopember 2005

Sutarto, Ayu. 2003. “Kebangkitan Sastra Daerah dan Media Massa” dalam Kidung, VII/April 2003. Surabaya: Dewan Kesenian Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar